Citra+ : Proporsi keterwakilan perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat, masih kurang memadai, terutama di bidang pengentasan kemiskinan, kesehatan dan pendidikan perlu ditingkatkan. Hal ini didasarkan karena pada bidang-bidang itu peran perempuan sangat signifikan.

Isu kemiskinan, pendidikan dan kesehatan, peran perempuan dalam rumah tangga memegang peran sentral, sehingga keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan kebijakan maupun perundangan mesti bersumber pada fakta-fakat dilapangan yang dominan dipengaruhi oleh kaum perempuan. Perempuan bukan subordinasi dalam hal ini, tetapi kedudukannya harus dinaikkan menjadi subyek kebijakan.

Meskipun telah dilahirkan berbagai landasan hukum yang bertujuan meningkatkan kesetaraan gender yang ada di Indonesia, namun hingga kini persoalan yang berbasis gender masih belum bisa teratasi.
Di ruang publik, kemiskinan kaum perempuan selalu dikaitkan pada tertutupnya ruang partisipasi perempuan di dalam pengambilan keputusan. Untuk kaum perempuan seringkali konsep ruang publik diartikan sebagai tempat berusaha atau tempat kerja dibandingkan dengan forum-forum di dalam komunitas. Perempuan memiliki pengetahuan empiris lebih mendalam dalam hal kesehatan dan pendidikan keluarga.

Nusantarakini.com

Dalam mengantisipasi permasalahan diatas, Ira Hadiati,SH. , Wakil Ketua Dewan Pakar di DPW Partai Berkarya Aceh, yang maju sebagai calon legislatif DPR RI no. Urut 3, Partai Berkarya (7), Dapil 1 Aceh, siap menjadi wakil rakyat, untuk menyuarakan aspirasi perempuan, dan menjamin kepentingan perempuan, bukan hanya di nilai dari aspek perimbangan, tetapi juga diantaranya, sebagai penentu dan pengambil keputusan dalam mewujudkan kebijakan. Dan hal ini akan dijadikan, sebagai salah satu prioritas kebijakan.

Saat ini memang sudah terlihat angka keterwakilan perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI). Kaum perempuan terus menunjukkan peningkatan tahun ke tahun. Ketika berlangsungnya pemilu pertama kali yang telah digelar tahun 1955. Menunjukkan jumlah kursi perempuan cuma sekitar 5,06%. Angka ini akan terus bertambah dengan cara bertahap sampai dengan mencapai 11,4% pada 1997 (KPU 2014).

Keterlibatan kaum perempuan saat ini masih terbatas dan masih tidak bisa lepas dari berbagai peran domestiknya. Seperti misalnya kegitan arisan, perkumpulan keagamaan atau pengajian, dan PKK. Masih ada stigmastisasi yang mengecilkan peran perempuan dalam pengambilan keputusan.

Dengan merujuk fakta tersebut, menurut Ira Hadiati,SH. masih jauh dari harapan. Oleh karenanya dia meluruskan niatnya untuk maju dalam kontestasi pemilihan umum 2019 dari Partai Berkarya dengan membawa semangat perubahan bagi kaum perempuan agar lebih efektif perannya dalam meningkatkan kualitas kesehatan keluarga, kualitas pendidikan anak-anak dan mengentasan kesmiskinan.
”Saya akan berikan karya terbaik saya untuk menjalankan semua amanat rakyat ” ujar pelatih senior Merpati Putih (MP) Aceh tersebut. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *