CITRA PLUS. Madura mempunyai potensi lahan garam yang terbesar di Indonesia. Luasnya mencapai sekitar 15000 hektar lahan garam. Hal ini karena Indonesia sendiri mempunyai garis pantai yang terbesar kedua di dunia. Namun faktanya, produksi garam yang masih sangat rendah bahkan yang jadi pertanyaan saat ini mengapa dengan kondisi tersebut Indonesia masih saja impor garam.

Pengamat ekonomi Faisal Basri menyatakan bahwa hal tersebut karena pengaruh cuaca atau curah hujan. Serta lahan yang tersedia untuk proses produksi garam. Garam harus diproduksi di darat, bukan di laut. Sedangkan garam harus dicetak di darat seperti halnya petak sawah.

Penghasil Garam di Indonesia
Sebenarnya Indonesia merupakan salah satu pemilik lahan garam yang luas  Dari Aceh sendiri sudah tercatat lahan garam nya 11000 hektar. Jawa Tengah 6000 hektar dan sampai ke Papua. Tetapi salah satu kabupaten yang mempunyai lahan garam terbesar di Indonesia adalah daerah Madura. Madura menjadi salah satu penyuplai garam yang ada di Indonesia.

Meskipun demikian, memang Indonesia masih impor garam, hal ini karena Indonesia mempunyai dua musim yaitu musim hujan dan juga musim kemarau. Garam harus digarap di darat dan dicetak di sawah. Sedangkan di NTT dan NTB curah hujannya relatif hanya 1 bulan dalam satu tahun. Ini menjadi tempat yang potensial untuk menghasilkan garam, namun pemerintah masih fokus pada sektor pariwisata.

Sementara beberapa lokasi lain seperti Madura mempunyai curah hujan lebih banyak didorong untuk menjadi penghasil garam. Oleh sebab itu, produksi garam menjadi kurang menentu karena hujan di beberapa waktu. Keputusan pemerintah untuk impor garam dipandang oleh kalangan industri sebagai sebuah hal yang wajar. Hal ini karena terdapat ketimpangan antara produksi dan juga konsumsi garam nasional.

Produksi garam nasional hanya sekitar 144000 ton dari kebutuhan sekitar 4,1 juta ton. Dari kebutuhan 4,1 juta ton itu 780.000 ton sendiri adalah untuk konsumsi publik. Sementara sisanya untuk keperluan industri. Bila cuacanya mendukung produksi garam Indonesia sendiri dapat mencapai 1,9 juta ton setiap tahunnya.

Penyebab Produksi Garam Nasional Minim
Meskipun Madura merupakan lahan garam terbesar, namun produksi garam nasional minim. Apa yang menjadi penyebabnya? Faktor cuaca yang menjadi penyebab utama produksi garam nasional sangat minim. Selama setahun terakhir hujan yang terus-menerus dikarenakan badai La Nina bisa menghambat produksi. Di samping cuaca, hal lain yang bisa membuat jumlah produksi garam Indonesia relatif minim yaitu proses pembuatan garam yang dilakukan secara tradisional.

Selama ini masyarakat Indonesia masih mengandalkan matahari dan masih menggunakan alat yang sederhana yakni pengeruk kayu dan juga kincir angin. Jangankan kita berbicara soal kualitas, saat membicarakan masalah peningkatan kapasitas kita juga akan kesulitan. Satu hektar tambak hanya dapat menghasilkan 70 ton garam. Itu jika cuacanya bagus, apalagi jika cuacanya buruk tentu hasil garam juga tidak akan maksimal.

Indonesia memang terkenal sebagai negara dengan garis pantai yang terpanjang kedua di dunia. Namun faktanya hanya sedikit di antara puluhan ribu km pantai yang dapat dijadikan lokasi sebagai tambak garam. Salah satunya adalah Madura. Indonesia menjadi salah satu negara dengan garis pantai terpanjang sehingga produksi garam yang berlimpah, itu hanya mitos. Karena saat ini lokasi tambak garam sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti tanah lokasi dan juga air lautnya.

Sampai saat ini Indonesia masih bergantung pada garam impor karena kandungan NaCl garam luar negeri diatas 92% sementara garam lokal dibawah 90%. Dan di sini teknologi memiliki peranan penting selain masalah lahan serta kandungan NaCl nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *